Ilmu Alamiah Dasar (Bab 1: 1.1 s/d 1.3)
1.1 PENGERTIAN
ILMU ALAMIAH DASAR
Ilmu
Alamiah Dasar merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam
ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Didalam Ilmu Alamiah Dasar dipelajari
tentang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Ø Pengertian IPA
H.W
Fowler mengatakan bahwa IPA adalah ilmu yang sistematis dan dirumuskan,yang
berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas
pengamatan dan induksi.Sedangkan Nokes dalam bukunya “ Science in Educaton”
menyatakan bahwa IPA adalah pengetahuan Teoris yang diperoleh dengan metode
khusus.
Kedua
pendapat diatas memiliki persamaan yang tidak jauh.
Memang benar bahwa IPA
merupakan suatu ilmu teoritis tetapi teori tersebut didasarkan pada metode
ilmiah yang meliputi :
Penemuan Masalah, Penyusunan
kerangka masalah, Hipotesis, Eksperimen dan Teori.
Berikut penjabaran singkat
tentang metode ilmiah tersebut :
1. Penemuan Masalah
Adanya
suatu masalah yang kita temukan secara empiris membuat kita mulaimemikirkan
secara radikal. Untuk menemukan bagaimana memecahkan masalah tersebut
dengan menetapkan ruang lingkup serta batasan yang jelas dengan
begitu akan dapat memudahkan kita mencari pemecahan atas
permasalahan-permasalahan dalam merumuskan kerangka permasalahanya.
2. Perumusan
kerangka permasalahan
Dalam
hal ini bertujuan untuk memberikan (mendeskripsikan) masalah menjadi hal yang
lebih jelas dari sebelumnya. Adapun penekanan penting pada langkah kedua ini
kita akan mengidentifikasikan faktor-faktor yang terlibat dalam masalah
tersebut sehingga akan terwujud (Nampak) gejala-gelaja yang sedang kita
tela’ah.
3. Hipotesis
Usaha
ini memberikan penjelasan (jawaban) sementara yang mengenai hubungan sebab
akibat mengikat faktor-faktor pembentuk kerangka masalah diatas. Dan pada
hakikatnya hipotesis ini merupakan hasil sebuah penalaran induktif – deduktif
dengan menggunakan pengetahuan lampau yang kita akui kebenarannya.
4. Eksperimen
(Pengujian Hipotesis)
Pada
bagian ini usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta telah didapat. Jika Fakta-fakta
dalam dunia empiris maka telah teruji kebenaran dari hipotesis tersebut, karena
hal tersebut didasarkan pada fakta-fakta nyata. Dan bila tidak terbukti, maka
ipotesis akan ditolak sehingga akan dikemukakan hipotesis lain sampai kita
menemukan hipotesis tertentu yang didukung oleh fakta-fakta. Karena dalam
proses pembuktian hipotesis itu tidaklah sangat mudah dan cepat.
5. Teori
Berbagai
langkah metode ilmiah telah dilakukan guna menemukan sebuah teori.
Secara luas teori ini dapat diartikan sebagai suatu penjelasan teoritas
mengenai suatu gejala tertentu. Pengetahuan ini dapat digunakan untuk penelaah
permasahan tertentu selanjutnya yaitu dapat dipakai sebagai premis dalam usaha
kita untuk menjelaskan berbagai gejala lain.
Dalam
hal ini dapat kita lihat dalam peta konsep sebagai berikut.
Ruang lingkup dari IAD adalah:1) Konsep-konsep dasar
tentang Ilmu Pengetahuan Alam
Konsep-konsep dasar tetang IPA meliputi :
· Fisika
· Biologi
· Kimia
2) IPA
dan Perkembangan Teknologi.
Setelah teknologi
menempuh pertentangan amat pesat masa lalu hingga menyilaukan mata manusia,
kini benar-benar orang mulai mempersoalkan akibat-akibat yang dibawa teknologi
pada peradaban.manusia secara keseluruhan. Pada hakikatnya, hal tersebut tidak
lain daripada menempatkan teknologi dalam fungsi sosial yang wajar. Apabila hal
ini bisa dilakukan, teknologi dapat memberikan harapan yang cerah, oleh karena
itu teknologi harus dapat merintis jalan ke arah pengadaan pangan, sandang dan
penyediaan pemukiman manusia tanpa merusak tatanan masyarakat.
A. Usaha pengadaan
pangan
IPA dan teknologi telah demikian maju sehingga merupakan bagian dari hidup
kita, termasuk dalam usaha pengadaan pangan dalam kaitannya maka sumbangan IPA
dan teknologi dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Mengembangkan tanah-tanah produktif
2. Penyediaan pangan baru
B. Sereal
berprotein tinggi
Menurut John Axtell dan Rameshwar Singh dari Universitas Purdue pada tahun 1973
telah mengemumkan penemuan dua jenis sorgum berlisin tinggi. Setelah memeriksa
9.000 jenis sorgum dari seluruh dunia, para peneliti menemukan dua keturunan
yang tak begitu dikenal dari ethopia (ethiopia adalah tanah leluhur sorgum)
yang mengandung protein sepertiga lebih banyak dan lisin dua kali lebih banyak
daripada jenis sorgum yang biasa ditanam orang.
C. Membuat pangan baru
Berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang sudah ada produk
yang dijual di pasaran bebas yaitu sejenis minuman yang dipelopori pembuatannya
oleh vitasoy yang dibuat di Hongking sejak 30 tahun yang lalu.
D. Protein sel tunggal
Dewasa ini kemungkinan yang paling banyak dibicarakan untuk menambah persediaan
pangan penyangkut penggunaan organisme mikro sel tunggal, terutama jenis ragi
tertentu untuk mengubah turunan minyak bumi atau sampah organik menjadi
bentuk-bentuk protein yang dapat dimakan.
E. Pembuatan produk daging tiruan
Cara lain untuk mengganti protein hewani dengan protein nabati adalah dengan
produk peternakan imitasi, yang sesungguhnya berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Perkembangan teknik untuk memintal protein soya menjadi serabut yang prosesnya
hampir sama dengan pemintalan benang tekstik
sintetis.
F. Penyediaan papan (pemukiman) tanpa merusak lingkungan
Berkat kemajuan IPA dan teknologi eksplorasi daratan untuk pemukiman sudah
sangat lazim. Dibidang pemukiman telah dikembangkan teknik-teknik pemukiman
untuk menggunakan tempat seefisien mungkin. Untuk kepentingan tersebut
dikembangkan sistem rumah susun sampai dengan rumah-rumah berkontruksi tahan
gempa dan sebagainya.
3) Dampak
perkembangan IPA dan Teknologi.
Dampak IPA dan teknologi terhadap kehidupan manusia
seperti banyaknya penemuan seperti penemuan energi cahaya, pengobatan dengan
alat canggih sehingga dapat mempermudah dan bermanfaat banyak bagi kehidupan
manusia.
1.2 Perkembangan Pikiran
ManusiaA. Sifat Unik ManusiaDibandingkan dengan
makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohani, akal budi, dan
kemauannya sangat kuat. Manusia tidak mempunyai tanduk, taji, ataupun sengat,
maka untuk membela diri terhadap serangan dari makhluk lain dan untuk melindungi
diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan, manusia harus memanfaatkan
akal budinya yang cemerlang. Kemauannya yang keras menyebabkan manusia dapat
mengendalikan jasmaninya.
Hal ini dapat
menimbulkan efek yang negatif misalnya, manusia dapat mogok makan, dapat
minum-minuman keras sampai mabuk, dan bahkan dapat bunuh diri. Kalau tubuh
mendapat pengaruh yang negatif dari lingkungan, maka timbul reaksi yang
mendorong tubuh supaya melepaskan diri dari lingkungan yang merugikan itu.
Tetapi kemauan keras dapat memaksa tubuh supaya tetap menerima pengaruh yang
negatif itu. Jadi, sifat unik manusia itu adalah akal budi dan kemauannya
menaklukkan jasmaninya.
B. Rasa Ingin TahuDengan pertolongan akal
budinya, manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi diri terhadap
pengaruh lingkungan yang merugikan. Tetapi adanya akal budi itu juga
menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Dengan kata lain, rasa
ingin tahu itu tidak pernah dapat dipuaskan. Akal budi manusia tidak pernah
puas dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Rasa ingin tahu mendorong
manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban
atas berbagai persoalan yang muncul di dalam pikirannya.
Kegiatan yang dilakukan
manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya sehingga tidak dapat
menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus
asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala
untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah
kegiatan-kegiatan yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan
menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.
Kegiatan untuk mencari pemecahan dapat berupa:
1.
Penyelidikan langsung.
2.
Penggalian hasil-hasil
penyelidikan yang sudah pernah diperoleh orang lain.
3.
Kerjasama dengan
penyelidik-penyelidik lain yang juga sedang memecahkan soal yang sama atau yang
sejenis.
Sebenarnya setiap orang
mempunyai rasa ingin tahu, meskipun kekuatan atau intensitasnya tidak semua
sama, sedangkan bidang minatnyapun berbeda-beda. Rasa ingin tahu inilah yang
dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh lingkungan.
Jadi rasa ingin tahu
tiap manusia pada setiap saat belum tentu sama kuat, demikian pula kelompok
fenomena yang menimbulkan rasa ingin tahu biasanya berbeda-beda dan dapat
berubah-ubah menurut keadaan. Tidak mungkin setiap individu mempunyai rasa
ingin tahu yang sama kuat terhadap segala fenomena yang terjadi dari alam.
Rasa ingin tahu yang
terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan
pada manusia itu sendiri. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan
praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam, tetapi pengetahuan
manusia juga berkembang sampai kepada hal-hal tentang keindahan.
Rasa Ingin Tahu Menyebabkan Alam Pikiran Manusia Berkembang. Ada dua macam
perkembangan yang akan kita tinjau, yaitu:
1.
Perkembangan alam
pikiran manusia sejak zaman purba hingga dewasa ini.
2.
Perkembangan alam
pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya.
Perkembangan alam pikiran
dapat juga disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongan dari dalam yang
berupa rasa ingin tahu. Jadi dengan kata lain, bahwa alam pikiran manusia
berkembang terutama karena ada dorongan dari dalam, yaitu rasa ingin tahu.
1.3 Mitos, Penalaran,
dan Cara Memperoleh PengetahuanA. MitosMenurut A. Comte, bahwa
dalam sejarah perkembangan manusia itu ada tiga tahap, yaitu:
- Tahap teologi atau tahap metafisika
- Tahap filsafat
- Tahap positif atau tahap ilmu
Dalam tahap teologi atau
tahap metafisika, manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita
atau kenyataan, yaitu pengetahuan yang tidak obyektif, melainkan subyektif.
Mitos ini diciptakan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Dalam alam pikiran,
mitos, rasio atau penalaran belum terbentuk, yang bekerja hanya daya khayal,
intuisi, maupun imajinasi.
Menurut C.A. van
Peursen, mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu
kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat pula diungkapkan
lewat tari-tarian atau pementasan wayang, dan sebagainya. Inti cerita adalah
lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia beserta lambang kejahatan
dan kebaikan, kehidupan dan kematian, dosa dan penyucian, juga perkawinan dan
kesuburan.
Pada tahap teologi ini,
manusia menemukan identitas dirinya. Manusia sebagai subyek yang masih terbuka
dikelilingi oleh obyek yaitu alam, sehingga manusia mudah sekali dimasuki oleh
daya dan kekuatan alam. Lewat mitos inilah, manusia dapat turut serta mengambil
bagian dalam kejadian-kejadian alam sekitarnya, dan dapat menanggapi daya
kekuatan alam.
Berikut ini akan dijelaskan contoh-contoh mengenai mitos, yaitu:
- Gunung api meletus hebat, menimbulkan gempa bumi,
mengeluarkan lahar panas dan awan panas, sehingga menimbulkan
banyak korban manusia. Manusia pada tahap teologi (menurut A. Comte) atau
pada tahap mitos (C.A. van Peursen) belum dapat melihat realita ini
dengan inderanya.
- Gempa bumi diduga terjadi karena Atlas (raksasa yang
memikul bumi pada bahunya) memindahkan bumi dari bahu yang satu ke bahu
yang lain.
- Gerhana bulan disangka terjadi karena bulan dimakan
raksasa.
- Bunyi guntur dikira ditimbulkan oleh roda kereta yang
dikendarai dewa melintasi langit.
Mencari jawaban atas
masalah seperti itu, dan menghubungkannya dengan makhluk-makhluk gaib, disebut
berpikir secara irasional. Demikianlah manusia pada tahap mitos atau teologi
menjawab keingintahuannya dengan menciptakan dongeng-dongeng atau mitos, karena
alam pikirannya masih terbatas pada imajinasi atau intuisi.
Mitos sangat berpengaruh
bagi kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang mempercayai mitos tersebut, ada
juga masyarakat yang tidak mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti
kebenarannya, maka masyarakat yang mempercayainya merasa untung. Tetapi jika
mitos tersebut belum terbukti kebenarannya, maka masyarakat bisa dirugikan.
Selain mitos, yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat, ada juga legenda
dan cerita rakyat. Cerita yang berdasarkan atas mitos disebut legenda.
Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia
misalnya:
1.
Alat Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh
mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang
dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh
mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang
dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh
mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang
dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
2.
Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30
sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak
terdengar.
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30
sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak
terdengar.
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30
sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak
terdengar.
3.
Alat Pencium dan
Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya .
manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,masam ,asin dan
pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung
kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui
bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak
semua orang bisa melakukannya.
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya .
manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,masam ,asin dan
pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung
kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui
bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak
semua orang bisa melakukannya.
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya .
manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,masam ,asin dan
pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung
kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui
bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak
semua orang bisa melakukannya.
4.
Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat
relative sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat
relative sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat
relative sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat-alat indera
tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia: ada yang sangat
tajam penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam
penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka
mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk
meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang
dilatih untuk itu, namun tetap sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan
alat. Meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan
pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan
tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:
- Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena
keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat.
- Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu.
- Hasrat ingin tahunya terpenuhi
Menurut Auguste comte
(1798-1857),dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu
maupun sebagai keseluruhan, berlangsung tiga tahap:
1.
Tahap teologi atau
fiktif
Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk mencaari atau menemukan
sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu,dan selalu
dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu
diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa
setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh para dewa atau kekuatan
ghaib lainnya.
Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk mencaari atau menemukan
sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu,dan selalu
dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu
diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa
setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh para dewa atau kekuatan
ghaib lainnya.
Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk mencaari atau menemukan
sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu,dan selalu
dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu
diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa
setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh para dewa atau kekuatan
ghaib lainnya.
2.
Tahap filsafat atau
metafisik atau abstrak
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia masih tetap
mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan
kepada kepercayan akan adanya kekuatan ghaib , melainkan kepada akalnya
sendiri,akal yang telah mampu melakukan abstraktasi guna menemukan hakikat
segala sesuatu.
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia masih tetap
mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan
kepada kepercayan akan adanya kekuatan ghaib , melainkan kepada akalnya
sendiri,akal yang telah mampu melakukan abstraktasi guna menemukan hakikat
segala sesuatu.
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia masih tetap
mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan
kepada kepercayan akan adanya kekuatan ghaib , melainkan kepada akalnya
sendiri,akal yang telah mampu melakukan abstraktasi guna menemukan hakikat
segala sesuatu.
3.
Tahap positif atau
ilmiah riel
Tahap positif atau riel merupakan tahap dimana manusia telah mampu berfikir
secara positif atau riel,atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang
dikembangkan secara positif , melalui pengamatan , percobaan dan perbandingan.
Tahap positif atau riel merupakan tahap dimana manusia telah mampu berfikir
secara positif atau riel,atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang
dikembangkan secara positif , melalui pengamatan , percobaan dan perbandingan.
Tahap positif atau riel merupakan tahap dimana manusia telah mampu berfikir
secara positif atau riel,atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang
dikembangkan secara positif , melalui pengamatan , percobaan dan perbandingan.
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang mirip dengan mite, yaitu
dianggap benar-benar terjadi tetapi tidak dianggap suci dan oleh yang empu- nya
cerita sebagai suatu yang benar-benar terjadi dan juga telah dibumbui dengan
keajaiban, kesaktian, dan keistimewaan tokohnya. Berbeda dengan mite, legenda
ditokohi oleh manusia, ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa dan sering
kali juga dihubungkan dengan makhluk ajaib. Peristiwanya bersifat sekuler
(keduniawian), dan sering dipandang sebagai sejarah kolektif. Oleh karena
itu, legenda seringkali dipandang sebagai ”sejarah” kolektif (folkstory).
Walaupun demikian, karena tidak tertulis maka kisah tersebut telah
mengalami distorsi sehingga seringkali jauh berbeda dengan kisah aslinya.
Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk
merekonstruksi sejarah maka legenda harus bersih dari unsur-unsur yang
mengandung sifat-sifat folklor. Contoh legenda seperti Sangkuriang, La
Madukelleng William Tell, Lutung Kasarung, Dan lain sebagainya.
Cerita rakyat adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki
Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu
kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang
dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang,
manusia maupun dewa. Fungsi Cerita rakyat selain sebagai hiburan juga bisa
dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan
pendidikan moral. Banyak yang tidak menyadari kalo negeri kita tercinta ini
mempunyai banyak Cerita Rakyat Indonesia yang belum kita dengar, bisa dimaklumi
karena cerita rakyat menyebar dari mulut ke mulut yang diwariskan secara turun
– temurun. Namun sekarang banyak Cerita rakyat yang ditulis dan dipublikasikan
sehingga cerita rakyat Indonesia bisa dijaga dan tidak sampai hilang dan punah.
Contoh cerita rakyat seperti Si Pitung, Malin Kundang, Lutung Kasarung, Loro
Jonggrang, Keong Mas, dan lain sebagainya.
B. PenalaranPenalaran Deduktif
(rasionalisme)Dengan bertambah majunya
alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia
dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos.
Menurut A. Comte, dalam
perkembangan manusia sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap
filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan
metode berpikir secara obyektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang
obyektif. Berbeda dengan pada tahap teologi, pada tahap filsafat ini manusia
mencoba mempergunakan rasionya untuk memahami obyek secara dangkal, tetapi
obyek belum dimasuki secara metodologis yang definitif.
Perkembangan alam
pikiran manusia merupakan suatu proses, maka manusia tidak puas
dengan pemikiran ini, sehingga berkembang ke dalam tahap positif atau tahap
ilmu. Dalam tahap positif atau tahap ilmu ini, rasio sudah dioperasikan secara
obyektif. Manusia menghadapi obyek dengan rasio.
Dalam menghadapi
peristiwa-peristiwa alam, misalnya gunung api meletus yang menimbulkan banyak
korban dan kerusakan, manusia tidak lagi mengadakan selamatan dengan
tari-tarian dan nyanyian, tetapi akan mengamati peristiwa itu, mempelajari
mengapa gunung api itu dapat meletus, kemudian berusaha mencari penyelesaian
dengan tindakan-tindakan yang sesuai dengan hasil pengamatannya. Misalnya,
dengan mencegah terjadinya letusan yang hebat. Untuk mengurangi banyaknya
korban, penduduk di sekeliling gunung api tersebut dipindahkan ke daerah lain.
Inilah bukti bahwa manusia lama-kelamaan tidak puas dengan mitos sebagai
pemikiran yang irasional, kemudian mencari jawaban yang rasional.
Pemecahan secara
rasional berarti mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang
benar. Kaum rasionalis mengembangkan paham yang disebut rasionalisme. Dalam
menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran
deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum
untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara
deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme itu
terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu
disebut premis mayor dan premis minor. Kesimpulan atau konklusi
diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut.
Dengan demikian, jelas
bahwa penalaran deduktif ini pertama-tama harus mulai dengan pernyataan yang
sudah pasti kebenarannya. Aksioma dasar ini yang dipakai untuk membangun sistem
pemikirannya, diturunkan atau berasal dari idea yang menurut anggapannya jelas,
tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Dengan penalaran deduktif ini dapat
diperoleh bermacam-macam pengetahuan mengenai sesuatu obyek tertentu tanpa ada
kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Di samping itu juga terdapat
kesulitan untuk menerapkan konsep rasional kepada kehidupan praktis.
Penalaran Induktif
(empirisme)Pengetahuan yang
diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka
muncullah pandangan lain yang berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang
mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret disebut penganut
empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar
ialah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret.
Penganut empirisme
menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif
adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan, atas
gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya, pada pengamatan atas logam besi,
tembaga, aluminium, dan sebagainya, jika dipanasi ternyata menunjukkan
bertambah panjang.
Dari uraian di atas,
dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang diperoleh hanya dengan penalaran
deduktif tidak dapat diandalkan karena bersifat abstrak dan lepas dari
pengalaman. Demikian pula dengan pengetahuan yang diperoleh hanya dari
penalaran induktif juga tidak dapat diandalkan karena kelemahan pancaindera.
Karena itu himpunan pengetahuan yang diperoleh belum dapat disebut ilmu
pengetahuan.
C. CARA MEMPEROLEH
PENGETAHUANMenurut Charles Price
ada 4 macam cara untuk memperoleh pengetahuan yaitu:
- Percaya
-
Seseorang akan mendapat pengatahuan karena ia percaya pada hal tersebut
adalah benar.
- Wibawa
-
Sesuatu akan dianggap benar,apa bila seseorang yg berwibawa menyatakan
benar.
- Apriori
-
Merupakan suatu keyakinan/pendirian/anggapan sebelum mengetahuai
(melihat,mendengar,menyelidiki) keadaan tertentu.
- Metode
Ilmiah
-
Seseuatu dianggap ilmiah apa bila memiliki patokan yg merupakan rambu2
untuk menentukan benar atau salah. Ilmu pengetahuan dianggap Alamiah
apabila memenuhi 4 syarat yaitu:
1.
Objektif (Pengetahuan
itu sesuai dengan Objek)
2.
Metodik (Pengetahuan itu
diperoleh dengan cara2 tertentu dan terkontrol)
3.
Sistematis (Pengetahuan
ilmiah itu tersusun dalam suatu system, tidak berdiri sendiri satu sama lain
saling berkaitan ,saling menjelaskan,sehingga keseluruhan menjadi kesatuan yg
utuh.)
4.
Berlaku Umum/ Universal
(Pengetahuan tidak hanya diamati hanya oleh seseorang atau oleh beberapa orang
saja ,tapi semua org dengan eksperimentasi yg sama akan menghasilkan sesuatu yg
sama atau konsisten.)
Ada 2 pokok untuk
memperoleh pengetahuan yaitu:
-
Yaitu pengetahuan yg disusun berdasarkan pada pengalaman, paham yg dikembangkan
disebut Empiris. Bagi kaum rasionalis berpendapat pengetahuan manusia
diperoleh melalui penalaran rasional yg abstrak,namun diperoleh melalui
pengalaman yg kongkrit.
-
Yaitu suatu cara yg didasarkan pada suatu rasio. Padanganya menyatakan
rasio merupakan sumber dan pangkal dari segala pengertian hanya rasio
sajalah yg dapat membawa orang kepada kebenaran dan dapat memberi petunjuk
dalam segala jalan pikiran
Beberapa alasan mengapa
manusia mudah menerima mitos
- Keterbatasan
pengetahuan manusia, pada umunya manusia memperoleh informasi dari cerita
orang yang mengetahui akan suatu hal. Kemudian hal ini bepindah telinga
kepada manusia yang lain. yang menjadi masalah adalah kebenaran tentang
informasi atau pengetahuan yang muncul dan telah menyebar tersebut.
- Keterbatasan
manusia dalam menalarkan sesuatu, ini dikarenakan kemampuan berpikir
manusia pada saat itu masih latih. Sehingga pemikiran yan dihasilkan dapat
benar dan dapat pula salah.
- Keingintahuan
manusia yang telah terpenuhi untuk sementara, mengadung pengertian bahwa
ketika manusia tlah mampu menalarkan sedikit hal yang ada dalam pikirannya
maka disitulah letak kepuasan manusia yang diterimanya secara intuisi.
- Keterbatasan
alat indera manusia, selain beberapa hal diatas keterbatasan manusia
terhadap bagaimana Ia menggunakan alat inderanay masih terbatas sehingga
jangkauan yang sangat detail dalam suatu penciptaan hal yang baru masih
bisa diragukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar